Ini hari kedua saya memakai jas putih kebanggaan. Memang belum masuk stase koass karena masih (harus) mengikuti kegiatan pra-koass di Diklat RSAM. Kegiatan pra-koass ini seperti kuliah dan pematerinya terkadang ngaret. Bahkan udah ditunggu lama-lama, malah gak jadi. Duduk, ngetwit, liatin temen-temen, nge-charge BB, dan begitu seterusnya selama menunggu pemateri datang.
Akhirnya datanglah pemateri pertama, dr. E U, MARS. Beliau adalah Kasubbag Pelayanan Medik RSAM. Koass Unila (kampus gue) angkatan 2007 masih dapet kuliah Fisiologi di semester 4 dari beliau. Jadi kita gak merasa asing. Beliau tadi pagi ngejelasin tentang kedudukan dokter muda (baca: koass) di RS, kewajiban-kewajiban koass, dan sedikit penjabaran struktur organisasi RSAM.
Di sela-sela materi, beliau berpesan kepada kita
Jangan membeda-bedakan pasien! Pasien GAKIN, Jamkesmas, dll itu bukannya enggak bayar. Mereka dibayar negara. Jadi perlakukan mereka semua dengan sama
“Tapi pasien-pasien yang dibayar negara tersebut merasa dirinya kurang dan gak mampu jadi mereka terkadang lebih ‘cerewet’. Padahal mereka dibayar lho, gak gratis juga sebenarnya. Bukannya gak mungkin kalian bakal mendengar selentingan ‘Udah miskin, cerewet lagi’”, kata dokter yang mukanya tetep sama dari jaman semester 4 ini.
Terus gue mikir, bukannya itu sama dengan insecure ya? Kita merasa rendah, kurang, terus jadi takut dan ‘cerewet’.
Begitupun dalam suatu hubungan. Merasa rendah, merasa gak pernah punya waktu sama ‘dia’ sedangkan ‘dia’ lagi dekat dengan orang lain. Padahal orang lain itu ya cuma temen aja. Ujungnya kita malah gengges sama pacar. Dikit-dikit sms, dikit-dikit galau.
Contoh lain. Pacar lagi cerita tentang mantan. Pacarannya lama. Kita sebagai orang baru, merasa rendah, merasa gak sebanding dengan mantannya. Ujungnya ya sama, dikit-dikit galau, dikit-dikit ngambek. Pokoknya segala hal dilakukan biar merubah dar situasi (yang menurut kita) insecure menjadi secure.
Padahal kalau kita bisa sedikit percaya diri dan percaya terhadap ‘dia’ situasi insecure tersebut enggak akan ada. Percaya kalau hanya diri kita yang ada di hatinya, percaya kalau hanya diri kita yang selalu di pikirannya, dan percaya kalau ‘dia’ selalu mencintai kita.